🌿 Bab Riya

0 Comments

🔰BULETIN AL IMAN

Kitab Tauhid (35)
🌿 Bab Riya

Firman Allah:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘bahwa sesungguhnya sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa’, maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia berbuat kemusyrikan sedikitpun dalam beribadah kepada Rabbnya.’” (QS. Al Kahfi: 110)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam hadits marfu’, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ مَعِيْ فِيْهِ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Sekutu Yang Maha cukup sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan amal perbuatan dengan dicampuri perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Said dalam hadits marfu’ bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ يَقُوْمُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مَنْ نَظَرِ رَجُلٍ إِلَيْهِ

“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang bagiku lebih aku khawatirkan terhadap kamu dari pada Al Masih Ad Dajjal? para sahabat menjawab: “baik, ya Rasulullah.”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan shalat, ia perindah shalatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya.” (HR. Ahmad)

Imam At-Tahanawi rahimahullah berkata:

الفرق بين الرياء والسمعة، أن الرياء يكون في الفعل والسمعة تكون في القول

“Perbedaan antara riya’ dan suma’ah adalah bahwasanya riya’ terjadi pada perbuatan sedangkan sum’ah terjadi pada ucapan.”

Imam Ibnu Abdil Salam berkata:

الرياء أن يعمل لغير الله، والسمعة أن يخفي عمله ثم يحدث به الناس

“Riya’ adalah seorang beramal untuk selain Allah, sedangkan sum’ah seorang menyembunyikan amalannya kemudian ia ceritakan kepada orang lain.” (Nahratu An-Na’im hlm. 4552)

: فيه مسائل

Kandungan bab ini:

١. هذا الأمر العظيم في رد العمل الصالح إذا دخله شيئ لغير الله

1. Masalah yang penting sekali, yaitu: pernyataan bahwa amal shalih apabila dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah, maka tidak akan diterima oleh Allah.

٢. ذكر السبب الموجب لذلك، و هو كمال الغنى

2. Hal itu disebabkan karena Allah adalah sembahan yang sangat menolak perbuatan syirik karena sifat ke –Mahacukupan–Nya.

٣. أن من الأسباب أنه خير الشركاء

3. Sebab yang lain adalah karena Allah adalah sekutu yang terbaik.

٤.خوف النبي على أصحابه من الرياء

4. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat khawatir apabila sahabatnya melakukan riya’.

٥. أنه فسر ذلك أن يصلي المرء لله ، لكن يزينها؛ لما يرى من نظر رجل

5. Penjelasan tentang riya dengan menggunakan contoh sebagai berikut: seseorang melakukan shalat karena Allah, kemudian ia perindah shalatnya karena ada orang lain yang memperhatikannya.

====================

Sebarkan...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
Hubungi kami
Assalaamu'alaikum
Kami siap membantu!