Kaidah Waqof & Ibtida’ Bag. 5

0 Comments

Rahasia dibalik Waqof Lazim

Jika kaidah sebelumnya kerap menyinggung waqof yang tidak tepat atau dinamakan dengan waqof qobih, maka kali ini akan membahas seputar waqof yang sangat dianjurkan atau bahkan diharuskan. Itu artinya, saat seseorang membaca Al-Quran dan melewati ayat yang memenuhi kriteria ini, maka hendaknya ia berhenti, alias tidak menyambugkannya dengan kalimat selanjutnya.

Ibnul Jazari rohimahulloh pernah menyebutkan kaidah ini dalam matan Al-Jazariyah:

وليس في القرآن من وقف وجب

ولا حرام غير ما له سبب

Tak ada waqof wajib maupun harom dalam Al-Quran kecuali karena terdapat alasan tertentu yang mengharuskannya

Tulisan Ibnul Jazari rohimahulloh diatas dengan jelas menggambarkan bahwa tidak terdapat waqof wajib/lazim yang membuat seseorang berdosa saat meninggalkannya, kecuali karena jika ia melanjutkan bacaan tanpa waqof, maka dapat menyebabkan perubahan pada makna yang terkandung didalamnha. Pun begitu kasusnya untuk waqof yang haram sebagaimana pernah kita singgung pada kaidah-kaidah sebelumnya.

Contoh Waqof Lazim

Firman Allah ta’ala pada surat Ali Imron:

لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِیرࣱ وَنَحۡنُ أَغۡنِیَاۤءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُوا۟ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِیَاۤءَ بِغَیۡرِ حَقࣲّ وَنَقُولُ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلۡحَرِیقِ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar”. (Ali Imron: 181)

Waqof Lazim pada ayat diatas terletak pada lafadz ُ أَغۡنِیَاۤءُۘ , sehingga saat membaca ayat diatas kita dianjurkan untuk berhenti pada lafadz tersebut alias tidak menyambungnya dengan satu nafas.

Alasannya ialah agar kita memisahkan antara perkataan orang-orang Yahudi yang Allah ceritakan pada ayat tersebut dengan Jawaban Allah subhanahu wata’ala atas ucapan serta perbuatan mereka.

Perkataan orang-orang Yahudi yang dimaksud adalah:

إِنَّ ٱللَّهَ فَقِیرࣱ وَنَحۡنُ أَغۡنِیَاۤءُۘ

sedangkan jawaban Allah ta’ala atas mereka dimulai pada lafadz setelahnya, yaitu:

سَنَكۡتُبُ مَا قَالُوا۟ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِیَاۤءَ بِغَیۡرِ حَقࣲّ وَنَقُولُ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلۡحَرِیقِ

Sebab jika kita tidak memisahkan dengan cara waqof antara dua kalimat ini, maka seakan-akan seluruh perkataan yang pada ayat tersebut, mulai dari lafadz إِنَّ ٱللَّهَ hingga akhir ayat merupakan perkataan orang Yahudi, padahal tidak demikian adanya.

Contoh lainnya terdapat pada surat Al-Qomar:

فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡۘ یَوۡمَ یَدۡعُ ٱلدَّاعِ إِلَىٰ شَیۡءࣲ نُّكُرٍ

Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan),

Waqof lazim yang pada ayat diatas terletak pada lafadz فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡۘ (Maka berpalinglah dari mereka).

Alasannya ialah karena antara kalimat tersebut dengan lafadz setelahnya tidak memiliki hubungan secara makna. Dan justru malah bisa merubah makna yang ada jika dibaca tanpa waqof.

Sebab saat dibaca sambung maka maknanya akan menjadi:

“Maka berpalinglah dari mereka di hari ketika Malaikat menyeru pada hari pembalasan”

Padahal keterang waktu “di hari ketika Malaikat menyeru pada hari pembalasan” bukan keterangan pelengkap untuk kalimat “Maka berpalinglah dari mereka”. Melainkan keterangan waktu untuk ayat selanjutnya yang berbunyi:

sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan (Al-Qomar: 7)

Dalam mushaf Al-Quran, waqof lazim ditandai dengan huruf mim, perhatikan gambar terlampir

Referensi:

Al-Muktafa, Ad-Dani

Matan Al-Jazariyah

Penulis : Ust. Afit Iqwanudin, Lc.

Alumni Ponpes Hamalatul Quran dan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiraat, Fakultas Al Quran, Universitas Islam Madinah. Sempat juga kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta hingga lulus pada tahun 2014.

Sebarkan...

Open chat
1
Hubungi kami
Assalaamu'alaikum
Kami siap membantu!