🌿 Nabi ﷺ Tidak Dapat Memberi Hidayah Kecuali Dengan Kehendak Allah

0 Comments

°••• ~ ༻ ﷽ ༺ ~•••°

🔰 BULETIN AL-IMAN

Kitab Tauhid (17)
🌿 Nabi ﷺ Tidak Dapat Memberi Hidayah Kecuali Dengan Kehendak Allah

Firman Allah:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al qashash: 56)

: في الصحيح عن ابن المسبب عن أبيه قال

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari, dari Ibnu Musayyab, bahwa bapaknya berkata:

: لما حضرت أبا طالب الوفاة، جاءه رسول الله ﷺ ، و عنده : عبد الله بن أبي أمية ، و أبو جهل ، فقال له
“Ketika Abu Thalib akan meninggal dunia, maka datanglah Rasulullah ﷺ , dan pada saat itu Abdullah bin Abi Umayyah, dan Abu Jahal ada disisinya, lalu Rasulullah bersabda kepadanya:

يَا عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ

“Wahai pamanku, ucapkanlah “la ilaha illallah” kalimat yang dapat aku jadikan bukti untukmu dihadapan Allah”.

فأعاد عليه النبي ﷺ ، فأعادا، فكان آخره ما قال : هو على ملة عبد المطلب ، و أبى أن يقول : لا إله إلا الله

Tetapi Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal berkata kepada Abu Thalib: “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib? Kemudian Rasulullah mengulangi sabdanya lagi, dan mereka berduapun mengulangi kata-katanya pula. Maka ucapan terakhir yang dikatakan oleh Abu Thalib adalah: bahwa ia tetap masih berada pada agamanya Abdul Muthalib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat: “la ilaha illallah”,

فقال النبي ﷺ : (لأستغفرن لك ما لم أنه عنك)، فأنزل الله

kemudian Rasulullah bersabda: “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu kepada Allah, selama aku tidak dilarang”, lalu Allah menurunkan firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ

“Tidak layak bagi seorang Nabi serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (QS. Al Bara’ah: 113).

: و أنزل الله في أبي طالب

Dan berkaitan dengan Abu Thalib, Allah menurunkan firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad tak sanggup memberikan hidayah (petunjuk) kepada orang-orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya.(QS. Al Qashash: 56)

: فيه مسائل

Kandungan bab ini:

١. تفسير قوله ﷺ : (قل لا إله إلا الله) بخلاف ما عليه من يدعي العلم

1. Penjelasan tentang sabda Nabi ﷺ : “Ucapkanlah kalimat la ilaha illallah”, berbeda dengan apa yang difahami oleh orang-orang yang mengaku dirinya berilmu

٢. أن أبا جهل و من معه يعرفون مراد النبي ﷺ إذ قال للرجل :(قل لا إله إلا الله) فقبح الله من أبو جهل أعلم منه بأصل الإسلام

2. Abu Jahal dan kawan-kawannya mengerti maksud Rasulullah ketika beliau masuk dan berkata kepada pamannya: “ucapkanlah kalimat la ilaha illallah”, oleh karena itu, celakalah orang yang pemahamannya tentang asas utama Islam ini lebih rendah dari pada Abu Jahal.

٣. جده ﷺ و مبالغته في إسلام عمه

3. Kesungguhan Rasulullah ﷺ dalam berupaya untuk mengislamkan pamannya.

٤. الرد على من زعم إسلام عبد المطلب و أسلافه

4. Bantahan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Abdul Muthalib dan leluhurnya itu beragama Islam

٥. كونه ﷺ استغفر له فلم يغفر له ، بل نهي عن ذلك

5. Permintaan ampun Rasulullah untuk Abu Thalib tidak di kabulkan, ia tidak diampuni, bahkan beliau dilarang memintakan ampun untuknya

٦. مضرة أصحاب السوء على الإنسان

6. Bahayanya berkawan dengan orang-orang berpikiran dan berprilaku jahat

٧. مضرة تعظيم الأسلاف و الأكابر

7. Bahayanya mengagung-agungkan para leluhur dan orang-orang terkemuka

٨. الشاهد بكون الأعمال با لخواتيم؛ لأنه لو قالها نفعته

8. Hadits di atas mengandung bukti bahwa amal seseorang itu yang dianggap adalah di akhir hidupnya; sebab jika Abu Thalib mau mengucapkan kalimat tauhid, maka pasti akan berguna bagi dirinya di hadapan Allah

٩. التأمل في كبر هذه الشبهة في قلوب الضالين ؛ لأن في القصة أنهم لم يجادلوه إلا بها ، مع مبالغته ﷺ و تكريره ،فلا لأجل عظمتها و وضوحها عندهم ، اقتصروا عليها

9. Perlu direnungkan, betapa beratnya hati orang-orang yang sesat itu untuk menerima tauhid, karena dianggap sebagai sesuatu yang tak bisa diterima oleh akal pikiran mereka; sebab dalam kisah di atas disebutkan bahwa mereka tidak menyerang Abu Thalib kecuali supaya menolak untuk mengucapkan  kalimat tauhid, padahal Nabi sudah berusaha semaksimal mungkin, dan berulang kali memintanya untuk mengucapkannya. Dan karena kalimat tauhid itu memiliki makna yang jelas dan konsekwensi yang besar, maka cukuplah bagi mereka dengan menolak untuk mengucapkannya.

====================

Sebarkan...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
Hubungi kami
Assalaamu'alaikum
Kami siap membantu!